Pengamen Tuna Wicara


Sabtu sore kemarin kami berangkat naik bis menuju Kediri. Lawatan kami kali ini bertujuan silaturrahim lihat bayi, adik ipar kami sudah dua minggu melahirkan bayi pertamanya dan belum sempat melihat. Setelah didesak kedua anak kami yang sangat kepingin melihat bayi adik ipar kami, akhirnya dengan bekal uang ongkos seadanya kami berangkat dengan menumpang bis PUSPA INDAH jurusan Kediri.

Walaupun telah berada didalam bis ternyata perjalanan kali ini macet diman-mana, beginilah keadaan Malang sekarang sudah banyak penduduknya dan kendaraan yang membludak menambah khazanah macet di kota Apel ini. Apalagi pada saat kami pulang ada bubaran wisuda di UMM, untuk membuang rasa jenuh kami mendengrakan music dari MP3 dari hp saya.

Dalam perjalanan yang perlahan tersebut kami sampai di kota Batu tepatnya depan TMP. Sudah menjadi budaya di bis jurusan Malang Kediri jika berhenti maka para pengamen akan naik kedalam bis untuk sekedar membawakan satu atau dua buah lagu, selanjutnya tentu saja mereka mengharapkan recehan dari para penumpang. Bagi kami lumayanlah untuk mengusir kepenatan dalam bis, tapi kali ini bukan kepenatan yang hilang tapi muncul kepedihan dalam hati kami sekeluarga. Pengamen yang naik di bis kami ternyata lagunya tidak jelas, tidak enak untuk didengarkan bahkan bisa dikatakan tidak layak untuk menjadi pengamen.

 Betapa tidak lagunya hanya berbunyi :” awe…….awe…..awe……awe…..awe…awe…%&$&%#******.” Coba nyayikan enak didengar tidak?Dan seterusnya dengan syair yang tidak jelas. Mendengar suara pengamen yang tidak jelas Faruq mulai bicara . Bi …” orang yang ngamen bisu,bi….”.sssssst.” saya langsung menempelken telunjuk saya di mulut  sebagai tanda agar Faruq diam. Segera saya merogoh uang receh lima ratus rupiah dan meminta Faruq memberikan kepada sang pengamen.

Kami mulai berdiskusi tentang pengamen tersebut setelah dia turun dari bis kami. Faruq dan Qonita segera kami berikan sedikit pemahaman makna bersyukur. “…Dek Faruq dan Qonita haus bersyukur bagaimanapun kita jauh lebih beruntung dari pada pengamen tadi, coba kalian bayangkan untuk makan saja dia harus mengamen padahal aorang tersebut tahu kalau dia ngamen pasti tidak enak didengar, karena itu kita harus bersyukur sebab yang kita miliki saat ini jauh lebih banyak dari pengamen tersebut, coba kalian bayangkan kalau menjadi seperti pengamen tadi”. Faruq dan Qonita hanya manggut-manggut saja , saya dan istri berharap semoga kedua anak kami memahami apa yang telah kami nasehati.

Bis melaju dengan kencang menuju Kediri kedua anak saya telah tertidur pulas setelah bercerita banyak hal dalam perjalanan kami, alhasil tepat azan isya’ kami sampai dikota santri Kediri.Terima kasih Ya Allah engkau telah memberikan ibrah dalam perjalanan kali meskipun hanya dari seorang pengamen. Terima kasih Ya Allah engkau telah memberikan ibrah dalam perjalanan kali ini  meskipun hanya dari seorang pengamen tuna wicara.

Recent Posts :

About rabbani75

Saya seorang ayah terlahir di Lombok 5 Agustus 1975.Melalui blog ini saya mencoba untuk berbagi tentang segala hal yang saya ketahui berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang saya alami. Blog ini ini juga sebagai sarana memperkenalkan bisnis yang sedang saya geluti
This entry was posted in Ceritaku and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pengamen Tuna Wicara

  1. Taufiq_Qipot says:

    Wah.. ane juga pernah ketemu pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s