Wahyu Pertama di Bulan Suci Ramadhan

Kaligrafi

Awal turunnya wahyu ketika Rasulullah berada didalam gua hiro’ kedatang Jibril dalam bentuk aslinya telah membuat Rasulullah SAW. Merasa takut dan cemas. Sedangkan surat yang pertama kali diturunkan adalah surat al Alaq ayat 1-5, berikut uraiannya :

  1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. [1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca. 

Beberapa cara penerimaan wahyu:

  1. Rasulullah mendengar suara seperti dentang lonceng yang terus-menerus, lalu berhenti dan beliau mengerti maksudnya, ini yang dirasakan paling berat oleh beliau;
  2. Jibril datang kepada beliau dalam wujud aslinya dan menyampaikan wahyu,
  3. Jibril datang mengambil rupa manusia dan menyampaikan wahyu,
  4. dalam bentuk mimpi.  Ada beberapa faktor yang membuat beliau gemetar dan ketakutan menerima wahyu, yakni:(1) perjumpaan dengan malaikat Jibril yang dahsyat dan tidak biasa, (2) beliau tidak pernah Continue reading

Asas Perubahan Kepada Perbaikan Adalah Manhaj Tasfiyah Dan Tarbiyah

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Oleh karena itu, kami selalu mendengungkan setiap saat dan selalu memfokuskan pada seputar dua point mendasar yang merupakan kaidah perubahan yang benar. Keduanya adalah Tashfiyah (pemurnian) dan Tarbiyah (pendidikan), kedua hal ini mesti berjalan bersama-sama sekaligus, yaitu tashfiyah dan tarbiyah.

Jika dalam suatu negeri terdapat suatu jenis dari tashfiyah, yaitu tashfiyah dalam hal aqidah, maka hal ini termasuk peristiwa yang sangat besar yang terjadi dalam masyarakat Islam yang merupakan bagian bangsa di antara bangsa-bangsa lain.

Continue reading

ADAB BUANG HAJAT

Syariat islam ini sempurna, sampe urusan buang hajat aja diatur oleh yang maha pencipta. Praktekin aja yang di bawah ini:

1. Jangan menunda-nunda, segeralah membuang hajat.

Apabila seseorang merasa akan buang air, maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.

2. Jangan mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya aurat tidak kelihatan. Di dalam hadits yang bersumber dari Anasz, ia menuturkan, “Biasanya apabila Nabir hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah dekat ke tanah.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).

3. Jangan membawa sesuatu yang berisi ungkapan Allah I. Karena tempat buang air (WC dan yang semacamnya) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, tempat syetan berkumpul. Hal ini demi memuliakan nama AllahI

4. Jangan menghadap atau membelakangi kiblat, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Ayyub Al-Anshariz, ia menyebutkan bahwasanya Nabi n telah bersabda, “Apabila kamu sampai di tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar.” (Muttafaq’alaih).

Ketentuan di atas berlaku apabila di ruang terbuka saja. Adapun jika di dalam ruang (WC) atau adanya penutup/ penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka boleh menghadap ke arah kiblat namun membelakangi kiblat lebih baik daripada menghadapnya.

5. Jangan kencing di air yang tergenang (tidak mengalir)atau di bak atau ember, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah n bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ.” (Muttafaq ’alaih)

Continue reading