بسم الله الرحمن الرحيم
Tag Archives: hadits
Selorejo Sebuah Kenangan
Musim liburan kali ini sungguh menyenangkan bagi kami. Juni 29 kami bertamasya ke Bendungan Selorejo, kali ini sebenaarnya bukan kantor saya yeng mengadakan tetapi kamtor dimana istri saya kerja. Sejak sebelum hari H istri saya minta didampingi untuk acara kantor di selorejo, namun karena kami berlainan tempat kerja saya tidak langsung menyanggupi permintaannya, sebab masih banyak tugas kantor yang belum terselesaikan.
Menanam Pohon tanpa harus jadi Petani?
Tak semua orang mempunyai keahlian menjadi seorang petani, saya misalnya ketika masih di Lombok pernah menjadi petani semangka bersama ayah tercinta, boro-boro untung malah panennya gagal total. Pernah juga nanam padi hasilnya sama gagal kata orang sih tangan saya tidak cocok untu bertani, saya sendiri tidak percaya dengan kata orang, sebab dalilnya juga tidak jelas dan ada bau khurafatnya. Bagi anda yang berkeinginan menjadi seorang petani jangan hawatir anda tidak perlu kursus, sekolah pertanian dan lain sebagainya, tahukah anda bahwa kita bisa jadi petani tanpa harus kesawah? coba perhatikan hadits berikut ini :
” Barang siapa mengucapkan : “subhanallahiladzhimiwabihamdihi”(maha suci Allahyang maha Agung dan memuji-Nya), ditanamkan baginya satu pohon di syurga.” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)
Cukup mudahkan jadi petani, panennya nanti di surga, dan ingat kalimatnya sangat ringan coba ucapkan setiap selesai Continue reading
SEORANG MUSLIM BAGAI POHON KURMA
Seorang muslim bukan hanya berguna untuk dirinya, tapi buah dari keimanannya akan menyebarkan bau harum dimanapun dan dengan siapaun dia bergaul,. Seorang Muslim bukannlah seorang perusak, seorang muslim adalah orang yang senantiasa berbuat perbaikan untuk lingkungan, dan orang yang berada di sekelilingnya. Lihat betapa indah gambaran seorang muslim seperti yang terdapat pada surat al ahdzab ayat 56
Pada ayat yang mulia tersebut terdapat sebuah perumpamaan, yaitu kalimat thayyibah. Kalimat yang baik. Para mufassirin mengartikan kalimat tersebut adalah (La ilaha illalah) .tiada kalimat yang paling baik selain kalimat tauhid lailaha illallah, ajakan untuk menyembah dan beribadah kepada Allah semata…dengan kalimat tersebut Allah mengutus para rasul, (dalil), para mujahid berjihad fi sabilillah (Li I’lai kalimatullah hiyal ulya) dan dengan kalimat tersebut jin dan manusia diciptakan (Addzariyat:56)
Mengapa wanita lebih banyak di Neraka?
Seorang wanita adalah mahluk Allah yang mempunyai kekuatan yang melebihi seorang laki-laki, secara husus Rasulullah membahas tentang wanita. Perhatian Rasulullah terhadap wanita dengan beberapa haditsnya berikut ini :
“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari. Ajaib… !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
ADAB BUANG HAJAT
Syariat islam ini sempurna, sampe urusan buang hajat aja diatur oleh yang maha pencipta. Praktekin aja yang di bawah ini:
1. Jangan menunda-nunda, segeralah membuang hajat.
Apabila seseorang merasa akan buang air, maka hendaknya bersegera melakukannya, karena hal tersebut berguna bagi agamanya dan bagi kesehatan jasmani.
2. Jangan mengangkat pakaian sehingga sudah dekat ke tanah, yang demikian itu supaya aurat tidak kelihatan. Di dalam hadits yang bersumber dari Anasz, ia menuturkan, “Biasanya apabila Nabir hendak membuang hajatnya tidak mengangkat (meninggikan) kainnya sehingga sudah dekat ke tanah.” (HR. Abu Daud dan At-Turmudzi, dinilai shahih oleh Al-Albani).
3. Jangan membawa sesuatu yang berisi ungkapan Allah I. Karena tempat buang air (WC dan yang semacamnya) merupakan tempat kotoran dan hal-hal yang najis, tempat syetan berkumpul. Hal ini demi memuliakan nama AllahI
4. Jangan menghadap atau membelakangi kiblat, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Ayyub Al-Anshariz, ia menyebutkan bahwasanya Nabi n telah bersabda, “Apabila kamu sampai di tempat buang air, maka janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya, apakah itu untuk buang air kecil ataupun air besar.” (Muttafaq’alaih).
Ketentuan di atas berlaku apabila di ruang terbuka saja. Adapun jika di dalam ruang (WC) atau adanya penutup/ penghalang yang membatasi antara si pembuang hajat dengan kiblat, maka boleh menghadap ke arah kiblat namun membelakangi kiblat lebih baik daripada menghadapnya.
5. Jangan kencing di air yang tergenang (tidak mengalir)atau di bak atau ember, berdasarkan hadits yang bersumber dari Abu Hurairah t bahwasanya Rasulullah n bersabda, “Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian buang air kecil di air yang menggenang yang tidak mengalir kemudian ia mandi di situ.” (Muttafaq ’alaih)