Merangkai Dua Periodisasi: Periode Kehidupan dan Perjuangan Rasulullah dengan Periode Penurunan Al-Qur’an

بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Qur’an tidak turun sekaligus, namun tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, biasanya dalam penggalan-penggalan pendek, antara 5 sampai 10 ayat setiap kali turun. Ada juga yang kurang dari itu, ada juga yang lebih dari itu. Tetapi, jelaslah bahwa ia diturunkan secara perlahan-lahan.

Karena Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, maka jelas ia terekam secara bersamaan dengan peristiwa sirah yang bergulir satu demi satu. Titik tekan kita adalah, mengetahui dan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa tertentu dalam sirah dan menemukan wahyu-wahyu yang turun sezaman dengannya. Selanjutnya, kita dapat mengambil pelajaran dan pengalaman jika saja kondisi yang serupa di dalamnya terulang lagi di zaman sekarang, yakni bagaimana Continue reading

Masa Sebelum, Menjelang dan Awal Kenabian

 Ada dua makna “jahiliyah”: (1) al-jahl yang merupakan kebalikan dari al-’ilmu (pengetahuan, ilmu); (2) al-jahl yang merupakan kebalikan dari al-hilmu (kesantunan, ketenangan, kendali diri, tidak terseret luapan amarah).

 Antara “ketiadaan ilmu” dan “ketiadaan kendali moral” bisa saling mempengaruhi, dan tampaknya makna pertama menjadi penentu. Dimana, karena ketiadaan ilmu maka manusia menjadi liar dan tidak bermoral. Ketiadaan ilmu bukan hanya karena tidak terdidik atau tidak bersekolah, namun juga karena ilmu/pendidikan yang keliru. Jadi, disinilah pentingnya sebuah sistem pendidikan yang benar, baik secara filosofis, metodologis, materi, maupun tujuan akhir yang ingin diraih. Ini penting bagi para akademisi, pemegang kebijakan dan praktisi pendidikan. Dalam konteks masyarakat awam, yang terpenting adalah memilih lembaga pendidikan yang benar.

 Fenomena paling menonjol “zaman jahiliyah” justru bukan ketiadaaan ilmu, namun ketiadaan sopan-santun, kendali diri dan supremasi hukum. Lebih gampangnya, zaman jahiliyah adalah kehidupan yang liar, buas, sewenang-wenang, zhalim, tak terkendali, tidak ada supremasi hukum, hilangnya kontrol moral, ketimpangan sosial, meluntur dan lenyapnya peran maupun relevansi agama dalam kehidupan riil masyarakat, merajalelanya klenik, takhayul, prasangka tak berdasar, syirik, kecenderungan penguasa/kaum kaya untuk mendiamkan keadaan ini sepanjang kenikmatan mereka tidak terusik dan kalau bisa mendapat keuntungan darinya, dst.

Continue reading

Sukses di mulai dari kesabaran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (45) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. 8: 45-46)

Sabar adalah sifat yang harus dimiliki untuk memasuki pertempuran, pertempuran apapun, baik di medan mental atau di medan perang.

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (46)

Ma’iyah (kesertaan) Allah inilah yang menjadi penjamin kemenangan, kesuksesan dan keberuntungan bagi orang-orang yang sabar..

Kini tinggal ajaran terakhir:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (47)

Continue reading