Kan ada Allah !!!!

Mungkin kalau kata-kata diatas di ucapkan oleh orang dewasa ini mungkin dari sebuah kekuatan iman yang tertanam didalam hatinya. Tapi bagaimana kalau kata-kata tersebut keluar dari mulut seorang bocah? inilah yang mengherankan bagi saya karena ucapan tersebut tidak pernah saya sangka akan di ucapkan oleh anak saya yang masih bocah. Entahlah apa motivasi yang ada pada diri Faruqi (putra kedua saya), ketika suatu malam hanya kami berdua sedang berada di rumah sementara istri dan anak saya yang nomer satu sedang  membeli keperluan rumah tangga kami di sebuah supermarket di kota Malang.

Ungkapan : “kan ada Allah” berawal dari sekian lamanya kami berdua menunggu kedatangan istri dan anak saya yang nomer satu kembali dari belanja, sebab setelah kontak via sms istri saya menjanjikan akan memberikan lauk sekaligus untuk makan malam kami. Tapi karena lama saya kemudian berinisiatif membeli lauk sendiri maklum setelah lebaran gas kami telah habis dan belum sempat beli. Secara tidak sengaja saya mengutarakan keinginan saya kepada Faruqi untuk membeli lauk, saat itu jam setengah sembilan malam. Saya berkeinginan meninggalkan Faruqi sendirian di rumah walaupun malam hari. Kemudian saya segera bertanya kepdanya: ” dek Faruq kalau abi keluar beli lauk buat makan bagaimana”?.

Continue reading

Ketika aku di atas sampan kecil

Pernahkah anda berada disebuah lautan luas atau di tengah-tengah dangau yang dalam? kira-kira apa yang terfikir jika tiba-tiba ada badai yang datang atau gelombang besar menerjang perahu atau kapal anda. Sungguh anda akan merasakan sama dengan apa yang saya rasakan, terlebih jika anda tidak bisa berenang maka rasa takut tenggelam begitu jelas tergambar dalam benak anda dan saya.Firman Allah SWT.:

” Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang,kapal yang berlayar dilaut dengan (muatan) yang beranfaat bagi manusia,apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air,lalu dengan air itu di hidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti”. ( surat Al Baqarah : 164)

Saya pernah mengalami sebuah peristiwa dimana saya merasakan begitu besar kekuasaan Allah dimana lautan Ia tundukkan agar kita berlayar diatas lautan luas nan ganas. Peristiwa ombak  setinggi tiga meter pernah saya alami Continue reading

Menanam Pohon tanpa harus jadi Petani?

Tak semua orang mempunyai keahlian menjadi seorang petani, saya misalnya ketika masih di Lombok pernah menjadi petani semangka bersama ayah tercinta, boro-boro untung malah panennya gagal total. Pernah juga nanam padi hasilnya sama gagal kata orang sih tangan saya tidak cocok untu bertani, saya sendiri tidak percaya dengan kata orang, sebab dalilnya juga tidak jelas dan ada bau khurafatnya. Bagi anda yang berkeinginan menjadi seorang petani jangan hawatir anda tidak perlu kursus, sekolah pertanian dan lain sebagainya, tahukah anda bahwa kita bisa jadi petani tanpa harus kesawah? coba perhatikan hadits berikut ini :

” Barang siapa mengucapkan : “subhanallahiladzhimiwabihamdihi”(maha suci Allahyang maha Agung dan memuji-Nya), ditanamkan baginya satu pohon di syurga.” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

Cukup mudahkan jadi petani, panennya nanti di surga, dan ingat kalimatnya sangat ringan coba ucapkan setiap selesai Continue reading

SEORANG MUSLIM BAGAI POHON KURMA

Seorang muslim bukan hanya berguna untuk dirinya, tapi buah dari keimanannya akan menyebarkan bau harum dimanapun dan dengan siapaun dia bergaul,. Seorang Muslim bukannlah seorang perusak, seorang muslim adalah orang yang senantiasa berbuat perbaikan untuk lingkungan, dan orang yang berada di sekelilingnya. Lihat betapa indah gambaran seorang muslim seperti yang terdapat pada surat al ahdzab ayat 56

Pada ayat yang mulia tersebut terdapat sebuah perumpamaan, yaitu kalimat thayyibah. Kalimat yang baik. Para mufassirin mengartikan kalimat tersebut adalah (La ilaha illalah) .tiada kalimat yang paling baik selain kalimat tauhid lailaha illallah, ajakan untuk menyembah dan beribadah kepada Allah semata…dengan kalimat tersebut Allah mengutus para rasul, (dalil), para mujahid berjihad fi sabilillah (Li I’lai kalimatullah hiyal ulya) dan dengan kalimat tersebut jin dan manusia diciptakan (Addzariyat:56)

Continue reading

Kisah Imam Muqbil

Imaam, Syaikhul Islaam, Al-’Allaamah, dan Muhaddits, Abu Abdir-Rahmaan Muqbil bin Haadii Al-Waadi’ii dilahirkan dan dibesarkan di sebuah lingkungan Zaidiyah (salah satu sekte Syi’ah) yang bercirikan tasawuf, mu’tazilah dan berbagai bid’ah lainnya.
Seperti para pendahulunya di Yaman, semisal Muhammad bin Ibraahiim Al-Waziir, Shaalih bin Mahdii Al-Muqbilii, Muhammad bin Ismaa’iil Al-Amiir (pengarang kitab Subulus-Salaam), Muhammad bin Ali Asy-Syaukaanii, akhirnya beliau meninggalkan madzhab Zaidi. Alasan kepergian mereka dari bid’ah dan kemudian mendekat kepada sunnah adalah sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Muqbil sendiri “karena mereka belajar dan datang untuk mengetahui apa yang ada di dalam (madzhab ini), kemudian mereka melihatnya jauh (menyimpang) dari Al-Quran dan As-Sunnah (shallallaahu alaihi wa sallam)” (Maqtal Syaikh Jamiilur-Rahmaan, hal. 6).

Syaikh Muqbil, mengikuti langkah keempat tokoh tadi, mempelajari sunnah dan sadar untuk mencintainya, telah mempelajari Sunnah selama 3 tahun. Selama ini, pelajaran madzhab Zaidinya hanya semakin menambah kebenciannya akan sunnah dan menjauhkannya dari sunnah. Mengapa? “Karena diambil dari golongan Mu’tazilah dalam masalah aqidah … dan dari golongan Rafidhah” (Maqtal Syaikh Jamiilur-Rahmaan, hal.7). Kesadarannya akan larangan taqlid dan bergolong-golongan (madzhabiyah) menuntunnya kepada As-Sunnah. Setelah selama beberapa waktu beliau tidak belajar, beliau kembali lagi untuk mempelajari Sunnah, dengan kehendak Allah. Syaikh belajar dan banyak mengambil manfaat dari Imaam Al-Albaanii dan Imaam Bin Baaz, selama masa studinya di Jami’ah Islamiyyah Madinah.

Continue reading

Sukses di mulai dari kesabaran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (45) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (46)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. 8: 45-46)

Sabar adalah sifat yang harus dimiliki untuk memasuki pertempuran, pertempuran apapun, baik di medan mental atau di medan perang.

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (46)

Ma’iyah (kesertaan) Allah inilah yang menjadi penjamin kemenangan, kesuksesan dan keberuntungan bagi orang-orang yang sabar..

Kini tinggal ajaran terakhir:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (47)

Continue reading