بسم الله الرحمن الرحيم
Al-Qur’an tidak turun sekaligus, namun tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, biasanya dalam penggalan-penggalan pendek, antara 5 sampai 10 ayat setiap kali turun. Ada juga yang kurang dari itu, ada juga yang lebih dari itu. Tetapi, jelaslah bahwa ia diturunkan secara perlahan-lahan.
Karena Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur, maka jelas ia terekam secara bersamaan dengan peristiwa sirah yang bergulir satu demi satu. Titik tekan kita adalah, mengetahui dan mengambil hikmah dari sebuah peristiwa tertentu dalam sirah dan menemukan wahyu-wahyu yang turun sezaman dengannya. Selanjutnya, kita dapat mengambil pelajaran dan pengalaman jika saja kondisi yang serupa di dalamnya terulang lagi di zaman sekarang, yakni bagaimana Allah memberikan solusinya yang dulu pernah diterapkan juga oleh Rasulullah dan para sahabat. Inilah fungsi utamanya. Jadi, tidak harus kaku dan kronologis dalam penerapan sekarang, namun melihat-lihat kecocokan antara peristiwa dalam sirah dan masalah yang kita hadapi sekarang.
Biasanya, periode kehidupan dan perjuangan Rasulullah dapat dipilah menjadi 3 penggalan utama, masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri: (1) periode sebelum kenabian, dimulai sejak lahir sampai usia 40 tahun, disebut qabla al-bi’tsah; (2) periode dakwah beliau selama masih di Makkah, yakni selama 13 tahun, dimulai sejak menerima wahyu wampai beliau berhjrah ke Madinah; (2) periode dakwah di Madinah, dimulai setelah hijrah sampai beliau wafat, yang membentang selama 10 tahun. Dua periodisasi yang lebih akhir dapat pula disebut sebagai ba’da bi’tsah. Masing-masing periode itu dapat dirinci dan dipecah menjadi fase-fase yang lebih pendek, baik sebelum maupun sesudah kenabian, baik semasa di Makkah maupun sesudah di Madinah.
Untuk dapat mengaitkannya dengan Al-Qur’an, kita mempergunakan apa yang direkam oleh para ulama’ mengenai tata urutan turunnya wahyu (tartib nuzulil wahyi) dan fase-fase turunnya wahyu (marhalah nuzulil wahyi).
Pages: 1 2
makasih bos artikelnya… mencerahkan..