Saat anakku sedang UTS aku dapat job baru yaitu mengajak anak-anak untuk persiapan UTS. Malam Selasa saya ditugas istri saya untuk menajari Faruq pelajaran IPA yang akan di ujikan esok harinya. Sebagai ayah yang ingin melihat anaknya sukses di UTS maka dengan senang hati saya mulai mengajak Faruq untuk membaca dengan telaten. Setelah membaca Faruq kemudian saya tugaskan untuk menjawab pertanyaan yang ada dibawah bacaan tadi. nemor satu hingga empat dengan lancar Faruq menjawab dengan lancar dengan tanpa berfikir panjang dan jawaban yang ia sampaikan benar semua.
Tibalah saatnya faruq menjawab pertanyaan nomer lima dan seterusnya, ketika sampai pada nomer ini Faruq mulai mengalami kesulitan menjawab karena ternyat soalnya jauh lebih menantang. Saya masih bisa mengendalikan emosi saya beberapa saat ,namun ketika Faruq akan menjawab soal nomor enam ia mulai berfikir agak lama hal tersebut memancing ketidak sabaran saya membimbing dia. Dengan terburu-buru saya katakan kepadanya:
Saya : ” ayo faruq segera dijawab, apa jawabannya yang benar?”
Faruq: ” sebentar toh bi berikan waktu saya berfikir, saya kan masih kecil”!
Saya tersentak dan termenung betapa saya telah keliru metode membimbing dia, segeralah saya minta maaf atas ketidak sabaran saya, dan ahirnya beberapa saat kemudian dia telah menjawab soal tersebut dengan benar. Alhamdulillah pagi ini sore ini saya lihat hasilnya Faruq mendapat nilai 85, segeralah saya ucapkan pujian sehingga dia terlihat gembira.