Para da’i yang mulia, saat ini tantangan dakwah begitu berat bukan karena medan yang terjal dan letak geografisnya yang kita lalui, tapi begitu banyak masalah umat kita semakin canggih,beragam dan dinamis. Tantangan ini menjadi begitu berarti bagi setiap da’i untuk mengembangkan potensi dalam diri para da’i, mari bersama mendukung dakwah kejalan yang benar tanpa harus melihat banyaknya tantangan dakwah saat ini. Setiap da’i yakin bahwa tantangan
dakwah merupakan sebuah batu loncatan menjadi seorang da’i agar lebih berbenah diri dalam segi ilmu dan kuwalitas spiritual.Selain ilmu dan kuwalitas spiritual yang harus senantiasa di upgrade hendaknya seorang da’i juga memperkaya dengan berbagai macam pengetahuan bahkan disaat tantangan dakwah yang beragam saat ini ada baiknya seorang da’i membekali diri dengan seni dalam berdakwah, seni yang kami maksud disini bukan dengan mendendangkan musik atau menyanyikan lagu, seni yang kami maksud adalah metode dakwah yang pariatif agar mad’u (sasaran dakwah) kita menjadi lebih tertarik dengan kemasan dakwah.
Seni yang pertama dalam dakwah tentu yang paling utama adalah : mengembangkan sifat ikhlas dalam berdakwah, di abad modern ini ikhlas menjadi sifat langka bahkan pada diri seorang da’i sekalipun. Banyak sekali cerita yang kita dengar seorang da’i yang tidak mau datang disuatu tempat karena tarif yang ditawarkan tidak sesuai dengan ketentuan sang da’i, ada juga cerita masyarakat disebuah desa pedalaman yang mengeluhkan minimnya da’i didaerah mereka bukan karena tidak adanya SDM tapi mahalnya biaya yang harus ditanggung oleh masyarakat tersebut untuk mendatangkan da’i yang bersangkutan.
Ikhlas dalam beramal merupakan kunci sukses dakwah seorang da’i, ikhlas menjadi pilar kesuksesan, karena itu seorang da’i harus ikhlas dalam aktifitas dakwahnya. Da’i hendaknya setia dengan amalnya untuk berorientasi pada Rabbnya, tidak lantas mengharap upah duniawi yang akan sirna. Di dalam al Qur’an di jelaskan
57. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya. (Al Furqon 57)
Ayat ini menegaskan bahwa motivasi seorang da’i menyampaikan risalah kenabian bukan untuk mencari popularitas, jabatan dan kedudukan melainkan seorang da’i hanya berharap ridlo dari Allah azza wajalla. seni yang kedua InsyaAllah pada tulisan berikutnya